top banner

Awas, Rokok Elektrik Juga Bisa Bikin Kecanduan


 Para penjual rokok elektrik meminta kepada pemerintah untuk melarang penjualan rokok kretek jika peraturan tentang penjualan rokok elektrik jadi dilaksanakan., Jakarta, Selasa (19/05/2015). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebagian pengguna rokok elektronik (e-cigarette) menganggap kurang adiktif dibandingkan rokok biasa. Ternyata belum tentu juga, sebuah studi mengungkapkan kandungan nikotin di dalam rokok elektronik sama dengan yang ditemukan di rokok biasa.

Menurut peneliti, persepsi rokok elektronik lebih aman dibanding rokok biasa karena perangkat ini bertenaga listrik panas dan menguapkan ciaran rasa nikotin tanpa melibatkan pembakaran. Berbeda dengan rokok biasa yang menggunakan pembakaran sehingga mengandung lebih banyak racun seperti karbon monoksidan oksida nitrat.

Namun studi yang diterbitkan dalam American Chemical Society’s Chemical Research in Toxicology menyebutkan ada sembilan dari 17 rokok elektronik yang mengandung jenis nikotin yang adiktif seperti dikutip laman Time (Jumat, 24/7/2015). 

Sebenarnya, kritikus telah lama menyatakan rokok elektronik pada dasarnya sama dengan rokok biasa dalam hal adiktif. Lalu, beberapa penelitian menunjukkan penggunaan rokok elektronik tidak terlalu terbukti berhasil membuat seseorang menjadi benar-benar berhenti merokok.



Waspadai Zat-zat Kimia di Sekitar yang Mengganggu Kesuburan

Zat-zat kimia yang mudah dijumpai pada kemasan makanan, pestisida, baju, karpet, kain pelapis, dan berbagai produk perawatan, berefek menunda kehamilan. Demikian berita yang ditulis HealthDay News, baru-baru ini. Penggunaan bahan-bahan kimia tadi sudah dilarang di AS karena beracun, dan diharapkan pada tahun 2010 benar-benar sudah tidak dipakai lagi.

Bagaimanapun, zat-zat tersebut sudah telanjur berkeliaran di lingkungan dan di tubuh kita selama puluhan tahun. “Zat kimia yang sudah tersebar luas ini mengganggu kesuburan, sehingga membuat orang sulit punya momongan,” ujar Dr. Jorn Olsen, ketua peneliti sekaligus Kepala Departemen Epidemiologi, UCLA’s School of Public Health.

Di dalam tubuh wanita Denmark yang menjadi responden penelitian, terkandung perfluorooctanoate (PFOA) kadar tinggi dan perfluorooctane sulfonate (PFOS). Akibatnya, mereka harus menunggu lama untuk hamil.

Laporan penelitian tersebut dipublikasikan dalam Human Reproduction edisi online, akhir bulan lalu. Dan diikuti kemunculan berbagai laporan tentang bahaya zat kimia lain yang ada dalam plastik, seperti bisphenol A (BPA), yang dapat menyebabkan masalah pada janin atau bayi. Untuk studi tersebut, Olsen dan tim mendata 1.240 wanita di Danish National Birth Cohort. Peneliti mengambil contoh darah responden dan melakukan wawancara tentang lamanya mereka menanti kehamilan. Ditemukan adanya kadar PFOS dalam darah dari 6,4 nanogram per mililiter (ng/ml) hingga 106,7 ng/ml. Untuk PFOA kisarannya 1 ng/ml hingga 41,5 ng/ml.

Olsen dan tim lalu membagi responden dalam empat kelompok, tergantung pada seberapa banyak kandungan zat kimia dalam darah mereka. Wanita dalam grup dengan kadar tertinggi PFOS, 70-134 persen lebih lama untuk bisa hamil daripada wanita dengan kadar PFOS terendah. Wanita dengan kadar PFOA tertinggi, 60-154 persen lebih lama untuk bisa hamil jika dibandingkan wanita dengan kadar terendah. 

Para peneliti mengaku belum tahu pasti mengapa zat kimia tersebut menghambat kehamilan. Namun, mereka memperkirakan itu semua terkait dengan terganggunya hormon yang bertanggung jawab pada proses reproduksi.

Studi terkini pada hewan mengungkapkan zat-zat kimia tersebut memiliki efek toksik pada lever, sistem imun, serta organ reproduksi. Studi juga menemukan bahwa PFOA dan PFOS dapat memengaruhi pertumbuhan janin. Bahaya lain menyangkut zat kimia tersebut mungkin akan segera menjadi perdebatan. Sejak tahun 2006, the US Environmental Protection Agency (EPA) berkomitmen bahwa delapan pabrik secara sukarela mengurangi emisi PFOA dan kandungan PFOA dalam produk mereka.

Awas!! Merek Pembalut Ini Mengandung Klorin Yang Bisa Membahayakan Wanita

Pembalut bisa dibilang merupakan kebutuhan pokok bagi kaum wanita, selain sandang, pangan dan papan. Namun sebuah temuan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang telah diumumkan perihal kandungan klorin dalam pembalut wanita, sungguh merisaukan.

Temuan YLKI tersebut didasarkan pada uji sampel yang berlangsung mulai Januari – Maret 2015. Hasilnya, 9 merek pembalut dan 7 pantyliner ternyata mengandung bahan pemutih kimia atau klorin.

Merek Charm, disebutkan sebagai pembalut dengan klorin yang paling tinggi yakni 54.73 ppm. Sementara untuk merek pantyliner yang paling banyak mengandung klorin adalah V Class, produk dari PT Softex yakni sebesar 14.68 ppm.

Laboratorium yang digunakan untuk melakukan pengecekan kadar klorin dalam pembalut wanita tersebut, aku pihak YLKI, adalah independen serta terakreditasi. Jadi bukan milik pemerintah atau yang memiliki tendensi dari segi bisnis atau apapun.

“Berdasarkan hasil uji sampel 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner di lab yang terakreditasi dan independen, semuanya positif mengandung klorin dengan rentang 5-55 ppm,” jelas peneliti YLKI, Arum kepada awak media.

Apa efek dari klorin terhadap organ intim wanita secara khusus, atau kesehatan wanita secara umum?

Menurut Arum Dinta, bahan kimia itu dapat memicu iritasi, gatal, dan bahkan keputihan. Dalam jangka panjang jika terus terjadi masalah maka bisa juga memicu kanker serviks, tambah dia.

Peraturan dari Food Drug Administration (FDA) tentang bahan kimia klorin di pembalut sebenarnya sudah tercantum, yakni pembalut tidak boleh mengandung bahan berbahaya tersebut. apalagi dalam jumlah konsentrasi yang besar.

Untuk itu YLKI menyarankan untuk pemerintah mengatur masalah SNI terhadap produksi pembalut ini, karena menyangkut masalah kesehatan wanita.

Sumber : http://sidomi.com/394429/awas-9-merek-pembalut-mengandung-klorin-bisa-bahayakan-wanita/